Menu

Mode Gelap

Madura · 12 Okt 2023 20:18 WIB ·

Tretan Dhibik dalam Penerapan Perdagangan Batik Tulis Madura


Tretan Dhibik dalam Penerapan Perdagangan Batik Tulis Madura Perbesar

Madura1.com – Istilah kata tretan dhibik dalam Bahasa Madura memiliki makna mendalam. Bahkan, bisa dikatakan telah membudaya pada masyarakat madura hingga dalam hal perdagangan sekalipun.

Dosen dan mahasiswa Universitas PGRI Madiun (Unipma) melakukan penelitian mendalam terhadap eksistensi tretan dhibik tersebut.

Dr. Maya Novitasari, S.E., M.Ak., CPFR. sebagai dosen pembimbing. Adapun tim PKM-RSH Unipma ini diketuai oleh Risma Putri Kusuma Wardhani yang beranggotakan Ardi Kurniawan Hidayatulloh dan Firdayana Alya Hendra P.

Penelitian tersebut telah di-submit ke Jurnal Akuntansi Multiparadigma Universitas Brawijaya dan telah terindeks Sinta 2.

Maya beserta tim mendapatkan fakta bahwa tretan dhibik telah melekat dalam kehidupan warga Madura, termasuk dalam perdagangan batik tulis lokal.

Tretan dhibik bagi masyarakat Madura berarti saudara sendiri,” ujar Maya Novitasari. Dilansir dari laman radar Madiun, Kamis 12/10/2023.

“Sehingga masyarakat Madura punya ikatan persaudaraan yang kuat, walaupun tidak ada hubungan darah,” imbuhnya.

Tim Unipma menemukan fakta sosial yang menarik dalam perdagangan batik tulis Madura.

Dalam berdagang batik tulis Madura, pembeli yang bisa berbahasa Madura dianggap tretan dhibik. Meskipun bukan masyarakat asli Madura. Kepercayaan dengan mudah terjalin.

“Misal pedagang punya konsumen yang bisa berbahasa Madura. Dalam bertransaksi, tidak masalah kalau tidak dibayar dulu. Bisa dibayar belakangan karena rasa percaya yang tinggi,” jelas Maya.

Namun, Maya dan tim Unipma menilai ada dampak negatif dari penerapan tretan dhibik. Pedagang bisa saja dirugikan akibat mudah percaya kepada konsumennya.

“Contohnya, pedagang dan konsumen bersepakat pembayaran baru dilakukan ketika barang sudah sampai tujuan. Hal ini bisa saja merugikan pedagang,” terangnya.

Menurut Maya dan tim, sistem perdagangan batik tulis dengan cara seperti ini menghambat pertumbuhan industri batik lokal.

Pedagang akan terjebak kata-kata tretan dhibik dalam setiap transaksi walaupun sudah tahu risikonya sangat tinggi.

“Meskipun kearifan lokal berupa tretan dhibik tidak dapat dihilangkan, setidaknya perlu ada perubahan pola pikir, khususnya dalam urusan perdagangan batik tulis Madura,’’ kata Maya.

“Ini supaya tidak timbul kerugian di pihak pedagang. Selain itu, dengan pembayaran kontan, uang yang didapat bisa diputar untuk modal produksi lagi,” tambahnya.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Warga Desa Mandala Rubaru Swadaya Membangun Jalan Aspal sepanjang 385 meter dengan lebar 3 meter

22 Oktober 2023 - 20:47 WIB

Mengenal Batik Madura: Sejarah, Ciri Khas, dan Motif

15 Oktober 2023 - 01:21 WIB

Sampang Menjadi Terbaik ke 2 di Jatim dalam Penurunan Stunting

14 Oktober 2023 - 23:53 WIB

10 Makanan Khas Madura yang Wajib Dicoba!

14 Oktober 2023 - 15:48 WIB

Festival Musik Tong-tong se-Madura 2023 di Sumenep Nanti Malam

14 Oktober 2023 - 13:44 WIB

Industri Rokok Pamekasan Madura Tembus Pasar Mancanegara

14 Oktober 2023 - 13:23 WIB

Trending di Madura